buletinaufklarung.com - Di tengah gemerlap dan intrik Athena abad ke-4 SM, muncul seorang wanita yang kecantikannya mampu melumpuhkan akal dan mengguncang konvensi. Ia lahir sebagai putri Epikles di Thespiai, Boiotia, yang hidup di Athena dengan nama Mnesarete, ia mendapatkan julukan "Phryne", yang berarti "kodok" karena warna kulitnya yang sangat unik.

Namun, julukan yang awalnya merendahkan warna kulitnya ini justru menjadi lekat dengan sosoknya yang memikat dan misterius. Phryne bukan sekadar wanita penghibur (hetaira) ia adalah icon kecantikan, kecerdasan, dan keberanian yang historinya terus bergema hingga kini.

Kecantikan Phryne begitu luar biasa hingga sejarah mengatakan bahwa ia menginspirasi para pematung terhebat pada masanya yaitu praxiteles. Sehingga para sarjana Yunani banyak yang membicarakannya.

Berkat kecantikan Phryne yang luar biasa, Phryne dijadikan model lukisan dari beberapa pelukis dan pematung hebat. Salah satunya bernama Praxiteles yang menjadikannya model untuk patung Aphrodite dari Knidos yang terkenal, sebuah karya yang dianggap sebagai salah satu patung telanjang wanita paling indah di dunia kuno (Fadhilah 2022).

Phryne juga menjadi model untuk patung dewi cinta lainnya, mengabadikan pesonanya dalam bentuk yang abadi. Kecantikan Phryne juga menjadi bahan pembicaraan banyak sarjana Yunani kuno, yang memuji parasnya. Dikutip Ancient Origins, Athenaeus memberikan detail paling banyak tentang kehidupan Phryne.

Athenaeus menyebutkan dalam karyanya berjudul The Deipnosophists: “Phryne adalah wanita yang sangat cantik, bahkan di bagian-bagian tubuhnya yang tidak terlihat secara umum: karena itu tidak mudah untuk melihatnya telanjang, karena dia memakai tunik yang menutupi seluruh tubuhnya, dan dia tidak pernah menggunakan pemandian umum. Tetapi pada pertemuan khusyuk festival Eleusinian, dan pada pesta Poseidonia, dia mengesampingkan pakaiannya di hadapan semua orang Yunani yang berkumpul, dan setelah melepaskan rambutnya,”

Namun, daya tarik Phryne tidak hanya terletak pada fisiknya yang memukau. Ia juga dikenal memiliki kecerdasan yang tajam dan keberanian dalam kepribadiannya. Ia mampu bergaul dengan para filsuf, politisi, dan seniman terkemuka Athena dan berhasil membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar objek kekaguman visual.

Ia menguasai seni percakapan dan memiliki pemikiran yang independen serta menjadikannya sosok yang dihormati sekaligus kontroversial.

Salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah Phryne adalah persidangannya atas tuduhan menghina dewa. Rincian pasti dari tuduhan tersebut tidak sepenuhnya jelas. ia menghadapi hukuman yang berat.

Dalam momen yang dramatis dan tak terlupakan, pembelanya, seorang orator ulung bernama Hyperides, menyadari bahwa argumen hukum saja mungkin tidak cukup. Tanpa ragu, ia langsung menyingkap jubah Phryne hingga telanjang di hadapan para juri.

Pemandangan visual lekuk tubuh yang sempurna dan bagaikan karya seni ilahi itu yang akhirnya membuat para juri terpesona hingga mereka tidak mampu menghukum wanita dengan kecantikan sedemikian rupa.

Phryne dibebaskan, sebuah kemenangan yang menggaris bawahi betapa kuatnya pengaruh kecantikan visual dalam masyarakat Yunani kuno, bahkan dalam konteks hukum. Ceritanya menginspirasi beberapa karya seni, termasuk lukisan Phryne di depan Areopagus oleh Jean-Léon Gérôme, dari tahun 1861.

Kisah Phryne tidak berhenti di Athena. Setelah tembok Thebes dihancurkan oleh Alexander Agung pd tahun 336 SM, ia menunjukkan sisi dirinya yang lain. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Phryne memberikan sumbangan untuk membangun kembali tembok kota Thebes.

Tetapi, ia menuntut agar kata-kata "Dihancurkan oleh Alexander, dipulihkan oleh Phryne si pelacur" tertulis di tembok. Tindakan ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mementingkan kemewahan dan kesenangan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nasib kota-kota Yunani dan warisan budayanya.

Keputusannya untuk membantu Thebes yang hancur membuktikan bahwa ia adalah wanita dengan visi dan patriotisme. Namun, tawaran Phryne ditolak oleh para patriarki kota dan temboknya tetap dalam kehancuran.

Kehidupan Phryne adalah cerminan kompleksitas masyarakat Yunani kuno. Di satu sisi, terdapat batasan yang ketat terhadap peran wanita. Namun, di sisi lain, individu seperti Phryne mampu menavigasi batasan tersebut dan bahkan meraih kekuasaan dan pengaruh melalui kombinasi kecantikan, kecerdasan, dan keberanian.

Ia menantang norma-norma yang ada dan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah. Beberapa pihak menyebut apa yang dilakukan Phryne dianggap sebagai pertunjukan striptis, pornografi, dan pornoaksi untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia.

Warisan Phryne terus hidup hingga kini. Kisahnya telah menginspirasi berbagai karya seni, sastra, dan diskusi tentang peran wanita, kekuatan kecantikan, dan keadilan. Ia adalah pengingat bahwa sejarah seringkali dipengaruhi oleh individu-individu yang berani mendobrak tradisi dan menggunakan aset yang mereka miliki, baik fisik maupun intelektual, untuk mencapai tujuan mereka.

Phryne bukan hanya sekadar legenda kecantikan tapi ia adalah simbol ketangguhan dan kemampuan seorang wanita untuk memberikan dampak yang kuat dalam masyarakat.

Rike Diana Putri

Santri Pusat Kajian Filsafat dan Teologi